Rabu, 02 Mei 2012

“PENGARUH REDENOMINASI RUPIAH TERHADAP IKLIM MONETER INDONESIA”


EKONOMI MONETER
“PENGARUH REDENOMINASI RUPIAH TERHADAP IKLIM MONETER INDONESIA”

Pendahuluan
Belakangan ini merebak wacana redenominasi Rupiah. Redenominasi adalah pemotongan nilai mata uang dengan dibarengi dengan penurunan harga secara sebanding. Jadi apabila Rp 1.000,- dipotong menjadi Rp 1,- (dipotong 3 angka nolnya), maka harga barang yang dahulu Rp 1.000,- juga turun menjadi Rp 1,-. Bagaimana cara memastikan hal tersebut? Salah satunya adalah dengan menerbitkan uang baru. Misalnya Rupiah Baru senilai dengan 1.000 Rupiah Lama. Lalu apa alasannya harus melakukan redenominasi?
Seperti yang kita tahu, hampir tiap tahun Indonesia mengalami inflasi atau dengan kata lain harga suatu barang harus dinyatakan dengan angka yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, banyaknya jumlah angka tersebut akan berpotensi mempersulit transaksi sehari-hari di samping risiko untuk membawa uang dalam jumlah besar. Perhitungan dengan nominal yang lebih tinggi juga lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan perhitungan dengan nominal rendah. Pernah suatu kali saya bertemu dengan teman saya yang cukup lama tinggal di negeri paman Sam saat dia sedang pulang ke Indonesia. Dia kebingungan mengecek apakah kembalian belanja di minimarket sudah benar atau tidak. Maklum saja sehari-harinya dia hanya berurusan dengan uang dengan nominal US$1-10. Bandingkan dengan kita yang nominalnya mencapai ribuan, bahkan ratusan ribu. Itu mungkin adalah salah satu contoh mengapa nominal yang besar akan menyulitkan transaksi kita sehari-hari.
Yang harus dipahami juga adalah bahwa redenominasi berbeda dengan sanering. Redenominasi mata uang  secara teori tidak akan menyebabkan kenaikan harga karena harganya juga ikut terpotong. Lain lagi dengan sanering. Mata uang yang mengalami sanering akan berkurang nilainya namun harga-harga barang tidak dijamin untuk ikut turun. Dengan demikian, sanering akan mengurangi daya beli uang sedangkan redenominasi tidak. Indonesia sendiri pernah melakukan sanering pada tahun 1965. Pada saat itu, rupiah dipotong nilainya dari 1.000 menjadi 1 rupiah di mana harga barang tidak ikut turun. Akibatnya adalah inflasi yang sangat tinggi.

Dampak Redenominasi terhadap iklim moneter Indonesia
Secara teori, redenominasi tidak akan memberikan efek negatif terhadap perekonomian.
Mari kita kembali ke tataran praktis. Pelaku ekonomi adalah manusia yang tindakannya tidak sepenuhnya bersifat rasional karena adanya pengaruh emosi sehingga respon terhadap kebijakan redenominasi ini tidak bisa kita asumsikan 100% bersifat rasional. Ketakutan akan adanya kemungkinan inflasi akan menyebabkan orang akan cenderung memegang barang, terutama yang nilainya tahan terhadap inflasi. Sebagai contoh adalah emas. Tentu saja hal ini bisa berdampak buruk terhadap laju pertumbuhan ekonomi karena berpotensi mengurangi konsumsi. Apabila terjadi penukaran rupiah ke mata uang lain yang lebih kuat, maka akan terjadi penurunan nilai rupiah terhadap mata uang lain.
Dampak lainnya yang perlu diperhatikan dengan cermat adalah adanya potensi pembulatan harga ke atas dengan alasan untuk mempermudah transaksi. Harga barang yang dahulu Rp 1.700,- akan menjadi Rp 1.7,-. Karena alasan yang telah disebutkan di atas, harganya akan dibulatkan menjadi Rp 2,-. Tentu saja secara luas, praktik ini akan mempertinggi tingkat inflasi.
Bagaimana dengan efek redenominasi ini terhadap bursa saham?
Selain kita akan dapat membeli saham dengan harga lebih ’murah’, para pelaku pasar akan bersikap negatif karena secara umum mereka menghendaki kestabilan ekonomi. Walaupun redenominasi seperti telah dipaparkan sebelumnya secara teori tidak menganggu aktivitas ekonomi, namun dampak psikologis yang ditimbulkannya terhadap masyarakat akan cukup mengkhawatirkan pelaku pasar.
 Sepertinya pemerintah harus benar-benar mengkaji untung ruginya menerapkan kebijakan ini. Seandainyapun dilaksanakan, persiapannya haruslah sangat matang dan sebisa mungkin menutup flaw yang mungkin terjadi dalam implementasinya. Jangan sampai keuntungan yang didapat lebih sedikit daripada kerugian yang harus ditanggung.
Secara umum, redenominasi mendorong efi siensi mata uang lokal. Jika sebuah transaksi terlalu besar angkanya, semisal sejuta, semiliar, atau setriliun, hal ini membuat pencatatan dan perhitungan menjadi terlalu sulit.
Nilai nominal yang lebih sederhana akan memfasilitasi perkembangan bisnis, memudahkan membawa uang kertas/koin, serta mengurangi risiko pencurian atau perampokan.
Kedua, redenominasi diharapkan bisa mengurangi tekanan infl asi dalam perekonomian dan meningkatkan kepercayaan terhadap mata uang rupiah. Secara rasional, redenominasi hanya bisa dilakukan saat infl asi relatif rendah dan kondisi perekonomian makro stabil.
Ini berarti memberikan sinyal positif bahwa perekonomian Indonesia sudah berada di jalurnya. Ongkos yang pasti dikeluarkan adalah biaya untuk menerbitkan uang kertas/ koin baru serta pendistribusiannya kepada masyarakat dan biaya untuk menarik uang kertas/koin lama dari peredaran.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah skema atau prosedur yang bisa menjamin hak-hak masyarakat terlindungi selama proses transisi dari uang kertas/koin lama ke baru. 
Indonesia mungkin perlu belajar dari pengalaman redenominasi di Rusia tahun 1998 yang menunjukkan ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola proses transisi ke uang kertas/ koin baru. Pada tahun 1998, Russia meredenominasi 1.000 ruble lama menjadi 1 ruble baru.
Namun demikian, pemerintah dan bank sentral saat itu tidak mampu mengelola tagihan utang luar negeri dan gagal meyakinkan masyarakat sehingga mendorong revaluasi nilai ruble.
Akibatnya redenominasi yang diharapkan meningkatkan kepercayaan terhadap ruble, justru membuat inflasi naik menjadi 85 persen pada tahun 1999. Selain permasalahan uang kertas/ koin, hal subtansial berikutnya ialah pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat mengenai perubahan yang terjadi.
Pengalaman di beberapa negara dibutuhkan waktu yang lama untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama di negara-negara berkembang, dengan tingkat pendidikan penduduk beragam.
Dari sisi makroekonomi, penetapan redenominasi bisa menimbulkan shock di pasar dalam jangka pendek yang diakibatkan oleh asymmetric information dan ketidakpastian akan dampak yang mungkin timbul pasca penetapan redenominasi.
Pada negara-negara berkembang ketidakpastian kebijakan ekonomi dapat mendorong spekulasi, capital flight, dan memperburuk iklim investasi.
Kerugian redenominasi juga bisa timbul dari waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk berbagai proses penyesuaian, mulai dari penyesuaian sistem pencatatan keuangan, penyesuaian harga, penyesuaian nilai tukar, hingga penyesuaian transaksi yang telah atau sedang berjalan.

1 komentar:

  1. pemberian pemahaman menjadi kunci dari keberhasilan penyelenggaraan redenominasi.. karena efek seakan2 kita membawa uang "sedikit" plus harga seakan2 menjadi "murah" akan membuat masy menjadi konsumtif.. tapi yang lebih lucu nya adalah, ada sebagian masyarakat yang berpikir redenominasi sama dengan sanering..

    maka dari itu penyuluhan menjadi sangat penting..

    nice posting :)

    BalasHapus