Rabu, 02 Mei 2012

INVESTASI DAN INDUSTRIALISASI DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG (NSB)


INVESTASI DAN INDUSTRIALISASI DI NEGARA SEDANG BERKEMBANG (NSB)

KONSEP INVESTASI DAN INDUSTRIALISASI
 Pengertian dan Konsep Investasi
   Investasi dalam ekonomi makro diartikan sebagai pengeluaran masyarakat untuk memperoleh alat-alat kapital baru. pengertian investasi secara umum adalah penanaman modal untuk satu atau lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang (Sunariyah, 1997:1). Investasi juga dapat diartikan berbagai cara atau upaya penambahan modal, baik langsung maupun tidak langsung dengan harapan pada saatnya nanti pemilik modal tersebut akan mendapatkan sejumlah keuntungan yang diharapkan dari hasil penanaman modal tersebut (Tandelin, 2001:13).
Investasi pada hakekatnya merupakan penempatan sejumlah dana pada saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang (Halim:2005). Umumnya investasi dibedakan menjadi dua, yaitu :
1.          Investasi pada asset-aset financial (financial assets)
Investasi pada asset-aset financial dilakukan di pasar uang, misalnya berupa sertifikat deposito, commercial paper, surat berharga pasar uang. Investasi juga bisa dilakukan di pasar modal, misalnya berupa saham, obligasi, waran, dan opsi.
2.         Investasi pada asset-aset riil (real assets)
Investasi pada asset-aset riil dapat berbentuk pembelian asset produktif, pendirian pabrik, pembukaan pertambangan, pembukaan perkebunan, dan sebagainya.
Proses Investasi
Proses investasi menunjukkan bagaimana seharusnya seorang investor membuat keputusan investasi pada efek-efek yang dapat dipasarkan, dan kapan dilakukan. Untuk itu diperlukan tahapan sebagai berikut (Halim:2005):

Menentukan Tujuan Investasi
Ada tiga hal yang perlu dipertimbangkan dalam tahap ini, yaitu: (a) tingkat pengembalian yang diharapkan (expected of return), (b) tingkat resiko (rate of risk), (c) ketersediaan jumlah dana yang akan diinvestasikan. Apabila dana cukup tersedia, maka investor menginginkan pengembalian yang maksimal dengan resiko tertentu. Umumnya hubungan antara resiko (risk) dan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected of return) bersifat linier, artinya semakin tinggi tingkat resiko, maka semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang diharapkan.

Pengertian dan Konsep Industrialisasi
Industrialisasi suatu proses interkasi antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi. Industrialisasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan penduduk sedikit & kekayaan alam meilmpah seperti Kuwait & libya ingin mencapai pendapatan yang tinggi tanpa industrialisasi.
Faktor pendorong industrialisasi (perbedaan intesitas dalam proses industrialisasi antar negara) :
a)  Kemampuan teknologi dan inovasi
b)  Laju pertumbuhan pendapatan nasional per kapita
c) Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negeri. Negara yang awalnya memiliki industri dasar/primer/hulu seperti baja, semen, kimia, dan industri tengah seperti mesin alat produksi akan mengalami proses industrialisasi lebih cepat
d)  Besar pangsa pasar DN yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jumlah penduduk. Indonesia dengan 200 juta orang menyebabkan pertumbuhan kegiatan ekonomi
e) Ciri industrialisasi yaitu cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan
f)   Keberadaan SDA. Negara dengan SDA yang besar cenderung lebih lambat dalam industrialisasi

Investasi dan Industrialisasi di Negara sedang Berkembang Negara Sedang Berkembang
Industrialisasi di negara sedang berkembang sama sekali bukan hal baru. Amerika Latin sedang memulai industrialisasi sejak dekade 30-an akibat menurunnya sumber-sumber alam di kawasan tersebut. Kala itu dipercaya bahwa untuk maju suatu negara harus melaksanakan industrialisasi. Spesialisasi di bidang pertanian identik dengan kolonialisme dan keterbelakangan. Industralisasi dianggap sebagai resep untuk meningkatkan aktivitas ekonomi., produktivitas dan peningkatan standar hidup keinginan lepas dari ketergantungan terhadap negara maju membuat negara-negara Amerika Latin melakukan industrialisasi.
Namun optimisme tersebut berbukti berlebihan. Sebab faktor kemajuan teknologi dari negara-negara industri maju kemudian menjadi penghambat. Produk industri dari negara sedang berkembang tersebut tidak dapat bersaing dengan produk industri negara maju dipasar internasional. Akibatnya, ekspor produk industri yang diharapkan memegang peranan penting dalam perekonomian tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Hambatan tersebut mengarahkan industri yang ada di Negara sedang berkembang menjadi sekedar pengganti produk impor dari negara lain. Yang kemudian dikenal sebagai strategi industri substitusi impor.
 Namun pelaksanaan strategi industri ini menghadapi banyak kendala yaitu :
1. Populasi yan kecil dari kebanyakn negara sedang berkembang.
2. Kemampuan membiayai penduduknya yang lemah karena tingakt pendapatan yang rendah.
3. Industri padat karya yang ada di Negara sedang berkembang tidak lagi memadai untuk mencapai tingkat perumbuhan industri yang tinggi, sehingga harus diarahkan pada industri yang padat modal.
4. Kurangnya sumber daya tenaga kerja yang terlatih.
5. Kurangnya infrastruktur dinegara sedang berkembang, sepeti jalan, pembangkit listrik dan yang lainnya.
Akibat dari berbagai kendala tersebut, banyak negara sedang berkembang terjerat dalam perangkap ekonomi biaya tinggi, inefisiensi, tingkat pengangguran tinggi, dan distribusi pendapatan yang tidak merata.

Prospek Industrialisasi
Dalam pembahasan mengenai industrialisasi dalam konteks internasional, perlu dibedakan dua hal, yakni trend jangka panjang dan pergerakan yang berulang.
Trend jangka panjang di antaranya:
1.      Menyempitnya perekonomian dunia internasinal akibat adanya kemajuan teknologi telekomunikasi dan transportasi.
2.      Globalisasi produk melalui internasional modal.
3.      Perubahan sumbangan industri terhadap kesempatan kerja dan perubahan tingkat pembangunan.
4.      Perubahan teknologi dan proses kerja sebagai hasil revolusi mikroelektronika.
Sementara yang dimaksud dengan pergerakan yang berulang meliputi:
1. Perubahan tingkat pertumbuhan produksi industri.
2. Perubahan tingkat pertumbuhan perdagangan internasional.
3. Perubahan tingkat keuntungan.
4. Pergeseran dari liberalisasi perdagangan mengarah ke proteksionisme.

Pengaruh faktor internasional terhadap pembangunan industri suatu negara adala sebagai berikut:
1. Tingkat pengaruh aktivitas ekonomi, yang terkait dengan dunia internasional turut mempengaruhi tingkat perumnbuhan industri di negara sedang berkembang.
2. Keberadaan modal untuk investasi, baik berupa investasi langsung maupun pinjaman, juga di pengaruhi oleh faktor intenasional. Masalah kekurangan modal internasional dan masalah hutang luar negeri dapat mempengaruhi pembangunan industri suatu negara.
3. Pengaruh perubahan teknologi, akan berpengaruh terhadap kemampuan kompetensi suatu negara.
4. Perubahan organisasi pada perusahaan industri manufaktur, baik perluasan usaha dan peningkatan kapasitas produksi dapat mempengaruhi tingkat pembangunan industri di suatu negara.

Investasi di NSB
Pemerintah NSB biasanya menggunakan berbagai kebijakan bersifat restriktif dan insentif bagi perusahaan-perusahaan asing. Kebijakan yang bersifat restriktif adalah : 
(1) prasyarat kinerja, 
(2) hukum “kejenuhan” (saturation), dan 
(3) pengendalian repatriasi laba. Sedang kebijakan yang rangsangan adalah insentif pajak.
           
Prasyarat kinerja biasanya ditetapkan untuk setiap industri. Misalnya, bagi TNC yang memasuki industri perakitan otomobil diharuskan meningkatkan kandungan lokal dari mobil secara progressive. Sedangkan mereka yang memasuki ekstraksi mineral diminta untuk melakukan investasi-investasi untuk industri pengolahannya di masa depan. Prasyarat kinerja ini biasanya ditetapkan untuk mencapai tujuan-tujuan NSB yang telah dibicarakan di muka yaitu lapangan kerja, alih teknologi, dan untuk kegiatan-kegiatan yang berorientasi ekspor, perolehan devisa.
           Kebijakan lain yang juga banyak dipakai (terutama di Amerika Latin dan Asia Tenggara), yang ditujukan untuk mempercepat proses alih teknologi yang lebih banyak, adalah desakan NSB terhadap para investor asing agar mencari mitra kerja lokal dengan membentuk usaha patungan (joint ventures). Prasyarat-prasyarat ini biasanya terkandung pada apa yang telah dikenal sebagai hukum kejenuhan (saturation laws), yang mengharuskan TNC agar menjual jumlah tertentu dari modalnya (biasanya 51 persen) untuk setiap proyek kepada pengusaha lokal. Tujuannya adalah agar mitra lokal dapat memantau teknologi yang masuk, mengambilnya, dan kemudian menerapkannya dalam perekonomiannya. Namun, banyak kerja sama dengan pola joint ventures merupakan pengaturan-pengaturan pro forma yang melibatkan elite-elite lokal yang dekat dengan penguasa politik yang kurang berminat dengan masalah-masalah bisnis. Dan kenyataannya, sering kali TNC yang menjadi bapak angkat menunjukkan keengganannya untuk melakukan difusi teknologi yang diinginkan oleh mitra lokalnya.
           Batasan-batasan lain yang biasanya diterapkan oleh NSB adalah batas maksimum repatriasi laba kepada perusahaan induk dan keharusan untuk menginvestasikan kembali sebagian laba negara tuan rumah. Batas maksimum repatriasi laba ditujukan untuk mengurangi aliran keluar dari sumber daya di NSB pada masa yang akan datang. Batasan-batasan seperti ini ditetapkan secara luas oleh NSB, khususnya di Amerika Latin dan di India. Di Kolumbia jumlah maksimum repatriasi laba oleh perusahaan kepada perusahaan induknya di luar negeri sampai 14 persen dari investasi pekerjaan Kolumbia ; Brasil membatasi sampai 10 persen dari modal yang tercatat. Di negara-negara lain, seperti Argentina dan Ghana,walaupun tidak secara eksplisit menyatakan persentase batas maksimum repatriasi laba, repatriasi tersebut dibatasi melalui sistem dibatasi melalui sistem devisa yang mereka anut.

INVESTASI DAN PDB DI NEGARA BERKEMBANG
Menurut Dornbusch (1993) ada lima prinsip yang mempengaruhi daya tarik investasi di negara berkembang, yaitu pertama, kesempatan. Tidak semua negara mempunyai kesempatan untuk menjadi daerah tujuan investasi. Beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin yang tergolong miskin, tidak mempunyai sumber daya dan stabilitas kondisi politik tidak akan menarik investor.
Kedua, prospek. Sebuah negara akan menjadi tujuan investasi apabila prospek ekonomi negara tersebut bisa diandalkan. Kotler dan Kertajaya (2000) mengemukakan sebuah contoh transformasi struktur ekonomi Jepang pasca PD II yang berubah dari pertanian menjadi industri manufaktur dengan biaya rendah. Model Jepang ini kemudian diadopsi oleh negara-negara lain di Asia seperti Korsel, Taiwan, Singapura, Malaysia, Thailand dan Indonesia. Model pembangunan negara-negara industri baru ini yang menjadi penyebab mereka mempunyai prospek ekonomi yang lebih baik.
Ketiga, koordinasi. Pasca krisis ekonomi pemerintah belum mampu memberikan sinyal positif kepada pengusaha yang terpaksa “memarkir” modalnya di luar negeri untuk kembali ke tanah air. Sebuah usaha membangun kondisi politik dan kemanan yang stabil serta eliminasi ekonomi biaya tinggi bisa menjadi sebuah sinyal bagi proses koordinasi ini.
Keempat , kebijakan pemerintah dan regulasi. Kebijakan pemerintah dalam investasi merupakan hal yang mutlak diperlukan. Menurut Hamid (1999) kebijakan pemerintah dalam perekonomian mutlak diperlukan, namun fleksibel dan perlu dukungan institusi. Salah satu keluhan investor saat ini adalah ketidakjelasan regulasi pemerintah baik pusat maupun daerah.Kelima, kondisi keuangan. Kondisi keuangan ini terkait dengan tiga aspek penting yaitu utang pemerintah, masalah APBN dan kondisi sektor keuangan.
Investasi (asing) di negara berkembang berkembang diperlukan karena masalah umum yang terjadi di negara berkembang adalah angka pengangguran yang tinggi, ketimpangan distribusi pendapatan dan ketidakseimbangan struktural (Koncoro, 2000). Investasi akan mendorong pertumbuhan PDB. Investasi yang diharapkan adalah investasi langsung (Foreign Direct Investment atau FDI) karena investasi ini memberikan dampak berupa pembukaan lapangan kerja baru sekaligus adanya kemungkinan transfer teknologi. Indonesia sejak masa orba berusaha untuk mengundang investor asing demi kepentingan pertumbuhan ekonomi. Menurut Chandra (1996) ada beberapa faktor yang mempengaruhi investasi langsung, yaitu permintaan, perubahan struktur perekonomian, kebijakan ekonomi makro dan ekonomi daerah, akses terhadap biaya faktor yang lebih rendah, akses terhadap SDM dan local sourcing dan akses terhadap lokasi input produksi dan penghematan eksternal. Pemerintah harus memfokuskan perhatiannya pada faktor- faktor tersebut.
Investasi terdiri dari dua jenis, yaitu investasi portofolio dan investasi langsung. Investasi portofolio adalah penanaman modal melalui bursa saham. Investasi jenis ini tidak mempunyai multiplier effect yang luas, karena perpindahan modal hanya terjadi di bursa saham dan tidak berimplikasi terhadap sektor riil. Selain itu, investasi jenis ini rentan terhadap perubahan. Aliran modal masuk dan keluar bisa terjadi setiap saat.
Investasi langsung adalah proses investasi dimana penanaman modal dilakukan dengan membangun pabrik di negara tujuan investasi. Investasi langsung mempunyai multiplier effect luas, yaitu penyediaan lapangan pekerjaan dan bergeraknya industri pendukung. Sejak krisis ekonomi melanda Indonesia lima tahun lalu, terjadi penurunan realisasi investasi di Indonesia, terutama investasi langsung.
Realisasi investasi akan menyelesaikan salah satu masalah krusial dalam perekonomian yaitu, penyediaan lapangan kerja. Dalam sebuah artikel utama majalah Far Eastern Economic Review edisi 1 Agustus 2002 diulas masalah pengangguran di Indonesia. Dalam artikel itu disebutkan bahwa untuk mengatasi masalah pengangguran, maka dibutuhkan angka pertumbuhan yang tinggi. Tentu saja, pertumbuhan ekonomi yang diharapkan adalah dengan kontribusi besar dari eksport dan angka investasi.
Orientasi pemulihan ekonomi dengan mengejar peningkatan angka investasi bukannya tanpa kritik. Beberapa ekonom terutama mereka yang berasal dari mazhab strukturalis menganggap keputusan untuk mengundang investor asing bisa berdampak negatif. Hal ini terkait dengan kepentingan nasional negara bersangkutan. Kelompok ekonom strukturalis percaya bahwa investasi asing yang berarti aliran modal masuk ke Indonesia lebih kecil jumlahnya dibandingkan dengan nilai repatriasi yang selisihnya sering disebut dengannet transfer (Arief, 2001).
Secara teoritis investasi akan mempengaruhi pendapatan nasional sebuah negara. Pendapatan nasional suatu negara biasanya diukur dengan PDB atau GDP. Komponen lain dari GDP adalah konsumsi, investasi, belanja pemerintah apabila asumsi yang digunakan adalah sistem perekonomian tertutup. Bila asumsi yang digunakan adalah sistem perekonomian terbuka maka ditambah dengan angka ekspor dikurangi angka impor. Fenomena di negara berkembang yang mempunyai beberapa aspek khsusus menyebabkan kritik terhadap indikator ekonomi dengan GDP ini.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar